Jumat, 10 Mei 2013

laporan pendahuluan


LAPORAN PENDAHULUAN
ISPA

A.    DEFINISI
ISPA adalah penyakit infeksi yang sangat umum dijumpai pada anak-anak dengan  gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut muncul secara bersamaan (Meadow, Sir Roy. 2002:153).
ISPA (lnfeksi Saluran Pernafasan AL-ut) yang diadaptasi dari bahasa Inggris Acute Respiratory hfection (ARl) mempunyai pengertian sebagai berikut:
l. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikoorganisme kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran  pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alfeoli beserta organ secara anatomis mencakup saluran pemafasan bagian atas.
3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlansung sampai 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan ISPA. Proses ini dapat berlangsung dari 14 hari (Suryana, 2005:57).
Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).

B.     ETIOLOGI
Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
Etiologi Pneumonia pada Balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa di negara berkembang streptococcus pneumonia dan haemophylus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua per tiga dari hasil isolasi, yakni 73, 9% aspirat paru dan 69, 1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus (Suriadi,Yuliani R,2001)
C.     TANDA DAN GEJALA
a. Tanda dan gejala dari penyakit ISPA adalah sebagai berikut:
1.   Batuk
2.   Nafas cepat
3.   Bersin
4.   Pengeluaran sekret atau lendir dari hidung
5.   Nyeri kepala
6.   Demam ringan
7.   Tidak enak badan
8.   Hidung tersumbat
9.   Kadang-kadang sakit saat menelan
b. Tanda-tanda bahaya klinis ISPA
1.    Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
2.    Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.
3.    Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.
4.    Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak
(Naning R,2002)

D.    KLASIFIKASI
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).
2. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :
1.       Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
2.      Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.
Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :
1.      Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).
2.      Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
3.      Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat (Rasmaliah, 2004).

E.     PATOFISIOLOGI
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983 dalam DepKes RI, 1992).
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick, 1983). Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980).
Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell, 1980). Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985).
Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Siregar, 1994).



Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu:
  1. Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
  2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
  3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
  4. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.









F.      PATHWAY










 



















G.    KOMPLIKASI
1.      Penemonia
2.      Bronchitis
3.      Sinusitis
4.      Laryngitis
5.      Kejang deman (Soegijanto, S, 2009)


H.    PEMERIKSAAN PENUJANG
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :
·         Pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman,
·         Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan,
·         Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Suryadi, Yuliani R, 2001)

I.       PENATALAKSANAAN
Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.
Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 452).
          Prinsip perawatan ISPA antara lain :
o  Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
o  Meningkatkan makanan bergizi
o  Bila demam beri kompres dan banyak minum
o  Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih
o  Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
o  Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek
o  Mengatasi panas (demam) dengan memberikan kompres, memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
o  Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

J.       ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan secara komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosiokultural. Pada tahap ini semua data atau informasi tentang klien dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan diagnostik (Gaffar,1999: 57)
a.        Riwayat Kesehatan
§   Keluhan Utama:
Keluahan yang paling di rasakan klien, dan jika klien belum dapat berinteraksi dengan petugas kesehatan bias di tanyakan pada orangtuanya.
§   Riwayat penyakit sekarang:
Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan atau tidak?
§   Riwayat penyakit dahulu:
Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit seperti sekarang tidak atau penyakit lainya?
§   Riwayat penyakit keluarga:
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut.






 b. Pemeriksaan pernafasan 
1)      Inspeksi:
Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan atau tidak.
Tonsil tanpak kemerahan dan edema atau tidak.
Tampak batuk tidak produktif atau tidak.
Tidak  atau tampak penggunaan otot- otot pernapasan tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi.
2)      Palpasi
Adanya demam atau tidak.
Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis atau tidak.
Tidak atau teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
3)      Perkusi
Suara paru normal (resonance)
4)      Auskultasi
Suara napas vesikuler atau terdengar/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru
2.      Analisa data
Symptom
Etiologi
Problem
1.      Biasanya pasien ditandai dengan adanya secret, suara ronchi/wising, otot bantu pernafasan, cuping hidung, dada terasa sesak.
2.      Adanya penupukan secret, infeksi pada saluran pernafasan, adanya otot bantu pernafasan
3.      Ditandai adanya, sianosis, otot bantu pernafasan, expansi didinding dada, suara ronchi/wising
4.      Ditandai dengan  penuran BB sebnyak 20%, kulit kriput, klien terlihat kurus, nafsu makan menurun, mual muntah, nyeri abdomen
5.      Adanya tanda-tanda infeksi seperti: tumor, dolor, calor, rubor, dan disfusilaesa. Dan cek leukosit tinggi/ rendah
6.      Ditandai dengan adanya panas lebih dari 37,6°C, akral panas, bibir merah, wajah tampak merah.
Penupukan secret






Kongesti hidung




Ventilasi pervusi




Input/autput tidak adekuat






Agen bakteri/virus




Proses infeksi
Bersihan jalan nafas






Pola nafas tidak efektif




Gangguan pertukaran gas




Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.





Resiko infeksi




Hipertermi









3.      Diagnose yang mungkin muncul
1)      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi muskus (secret)
2)      Gangguan pola nafas berhubungan dengan kongesti hidung
3)      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan  ventilasi perfusi
4)      Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
5)      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan agen virus/bakteri
6)      Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
7)      Nyeri akut berhubungan dengan agen biologi
4.      Rencana intervensi
1)      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi muskus (secret)
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah bersihan jalan nafas dapat teratasi dengan kreteria hasil: hidung bersih, tidak ada secret klien dapat bernafas dengan lancer, tidak ada pernafasan menggunakan cuping hidung.
Rencana tindakan:
·         Observasi sistem pernafasan dan adanya subatan
·         Bersihkan jika ada sumbatan
·         Berikan posisi semi fowler
·         Anjurkan klien untuk minum yang hangat
·         Ajarkan batuk efektif
·         Masase punggung dan dada klien
·         Kalaborasi pemberian O2
·         Kalaborasi pemberian obat
2)      Gangguan pola nafas berhubungan dengan kongesti hidung
Tujuan setelah dilakukan tindak keperawatan diharapkan masalah gangguan pola nafas teratasi dengan kreteria hasil: klien tidak sesak lagi, sudah tidak ada sumbatan, inspirasi dan ekspirasi tidak menggunakan otot bantu pernafasan.
·         Berikan posisi semi fowler
·         Kalaborasi pemberian O2
·         Kalaborasi pemberian obat
3)      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan  ventilasi perfusi
Tujuan setelah dilakukan tindak keperawatan diharapkan masalah gangguan pertukaran gas teratasi dengan kreteria hasil: klien tidak sesak lagi, sudah tidak ada sumbatan, inspirasi dan ekspirasi tidak menggunakan otot bantu pernafasan.
·         Berikan posisi semi fowler
·         Anjurkan klien untuk minum yang hangat
·         Ajarkan batuk efektif
·         Masase punggung dan dada klien
·         Kalaborasi pemberian O2
·         Kalaborasi pemberian obat
4)      Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Tujuan setelah dilakukan tidak keperawatan diharapkan masalah gangguan nutrisi teratasi dengan kreteria hasil: nafsumakkan klien meningkat, klien tidak mual dan muntah, peningkatan BB, wajah terlihat segar.
·         Observasi adanya gangguan nutrisi
·         Observasi pola makan
·         Njurkan klien untuk makan sedikit tapi sering yaitu 2 jam sekali
·         Anjurkan diit yang sehat
·         Kalaborasi dengan tim gizi
·         Kalaborasi pemberian obat
5)      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan agen virus/bakteri
Tujuan setelah dilakukan tindak keperawatan diharapkan masalah resiko tinggi infeksi dapat teratasi dengan kreteria hasil: tidak ada tanda-tanda infeksi,  pemeriksaan leukosit dalam batas normal.
Intervensi
·         Observasi adanya tanda-tanda infeksi seperti: tumor, dolor, rubor, color, dan disfusilaesa.
·         Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
·         Menggunakan APD untuk proteksi diri dank lien
·         Kalaborasi dalam pemberian obat
6)      Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan setelah dilakukan tindak keperawatan diharapkan masalah hipertermi klien dapat teratasi dengan kreteria hasil, suhu dalam rentang normal 36,5°C-37,5°C, akral tidak panas, bibir tidak kering, turgor kulit elastic.
Intervensi:
·         Observasi adanya peningkatan dan penurunan suhu
·         Observasi vital sign
·         Berikan kopres pada lipatan tubuh
·         Anjurkan klien untuk menggunakan baju yang tipis dan menyerap keringat
·         Lakukan kalaborasi pemberian obat
7)      Nyeri akut berhubungan dengan agen biologi
Tujuan setelah dilakukan tindak keperawatan diharapkan masalah nyeri klien teratasi dengan criteria hasil. Ekpresi wajah tampak  ceria, klien tidak terlihat menahan sakit, sekala nyeri 0.
Intervensi
·         Observasi sekala nyeri
·         Lakukan tehnik distraksi dengan terapi bermain pada anak
·         Lakukan tehnik rileksasi dengan nafas dalam
·         Kalaborasi pemberian obat












DAFTAR PUSTAKA

Meadow,Sir Roy dan Simen.2002.Lectus Notes:Pediatrika.Jakarta:PT.Gelora Aksara Pratama

DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.

Suriadi,Yuliani R,2001,Asuhan Keperawatan pada Anak,CV sagung Seto,Jakarta

 Gordon,et.al,2001, Nursing Diagnoses : definition & Classification 2001-2002,Philadelpia,USA

  Departemen Kesehatan RI, 2002. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut Untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita: Jakarta.

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa  oleh Dr. yohanes gunawan. Jakarta: EGC

Gordon,et.al,2001, Nursing Diagnoses : definition & Classification 20012002,Philadelpia,USA

Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Materi pelatihan kader dan penyegara kader (2004), PSIK UMJ, Jakarta

Naning R,2002,Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Handout kuliah Ilmu Kesehatan Anak) PSIK FK UGM tidak dipublikasikan

Pertemuan Ilmiah Tahunan V (PIT-5) Ilmu Penyakit Dalam PAP di Sumsel. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang

Soegijanto, S (2002). Ilmu penyakit anak; diagnosa dan penatalaksanaan.
     Jakarta: Salemba medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar